Apa yang Terjadi Bila Semua Materi Alam Bereaksi Begitu Cepat?

11:08 PM Ahid Arrusmani 0 Comments

Anda bahkan tidak mungkin duduk di kursi karena semua materi yang membentuk kursi akan langsung bereaksi dengan materi yang menyusun tubuh anda, dan anda akan menjadi manusia setengan kursi. Hal itu akan terjadi jika atom-atom dan partikel-partikel yang kebetulan berdekatan dengan jarak tertentu bersatu segera tanpa harus memenuhi kondisi tertentu maka atom dan partikel dari dua zat yang berbeda akan langsung berinteraksi. Tentu saja dalam dunia seperti ini tidak akan terdapat kehidupan, lalu, bagaiman hal itu dapat dihindari?

Pada hakikatnya, alam semesta dibentuk dari interaksi 109 unsur atom yang berbeda-beda, adapun unsure-unsur ini dapat kita buka kembali dalam pelajaran Kimia kelas XII IPA yang telah terkemas rapi dalam suatu tabel yang disebut dengan Tabel Periodik Unsur. Di sini terdapat hal yang perlu disebutkan , yaitu bahwa kondisi yang sangat penting harus dipenuhi agar reaksi dapat dimulai. Sebagai contoh, air tidak terbentuk kapanpun oksigen dan hydrogen bertemu, dan besi tidak segera berkarat begitu bersentuhan dengan udara. Kalau demikian,besi, yang merupakan logam keras dan megkilat, dalam beberapa menit saja akan berubah menjadi besi oksida yang berupa bubuk halus, dan mungkin semua mobil di jalan raya akan menjadi bubuk halus besi dalam hitungan menit saja. Tidak ada logam yang tersisa dibumi ini dan keteraturan di dunia akan sangat terganggu jika seandainya hal itu benar-benar terjadi.

Sebagai contoh lainnya, molekul-molekul hydrogen dan oksigen bereaksi sangat lambat pada suhu kamar. Ini berarti air terbentuk sangat lambat pada suhu kamar. Tetapi bila suhu lingkungan sekitar meningkat, energy molekul juga meningkat dan akhirnya reaksi pembentukan airpun dipercepat, sehingga airpun akan terbentuk dengan cepat pula. Jumlah minimum energy yang dibutuhkan molekul untuk bereaksi dengan molekul yang lain disebut dengan energy aktivasi. Misalnya, agar molekul hydrogen dan oksigen bereaksi satu sama lain untuk membentuk air, energy mereka haruslah lebih tinggi dari energy aktivasi. Lalu siapakah yang mengatur keseimbangan yang sangat rumit ini? Dialah Allah yang maha agung lagi maha menjaga.

Coba pikirkan, jika suhu bumi sedikit lebih tinggi dari suhu normalnya, maka atom-atom yang ada di bumi ini akan bereaksi terlalu cepat, yang berarti akan merusak keseimbangan di alam. Bila kebalikannya, suhu bumi lebih rendah dari suhu normalnya, maka atom-atom yang ada di bumi ini akan bereaksi begitu lambat, yang sekali lagi akan mengganggu keseimbangan di alam. Ini menjelaskan mengapa jarak bumi dengan matahari sangat tepat untuk menyokong kehidupan di bumi. Tentu saja keseimbangan rumit yang dibutuhkan kehidupan tidak berakhir disini. Kemiringan sumbu bumi, massanya, luas permukaannya, proporsi gas-gas dalam atmosfir, jarak antara bumi dan bulan serta banyak factor-faktor lain yang harus tepat nilainya seperti saat ini sehingga mahluk hidup dapat bertahan. Ini menunjukkan pada fakta bahwa semua faktor ini tidak berkembang secara kebetulan dan semuanya diciptakan oleh Allah swt, pemilik kekuasaan tertinggi, yang memahami semua sifat mahluk.

Biasanya peran ilmu pengetahuan dalam proses ini hanyalah memberi nama hukum-hukum fisika yang teramati. Sehingga dalam fenomena seperti itu, pertanyaan seperti “apa?”, “bagaimana?” dan “dengan cara bagaimana?” menjadi tidak penting. Apa yang telah kita capai dalam semua pertanyaan ini hanyalah penjabaran dari hukum-hukum yang telah ada, dan pertanyaan utama yang seharusnya diajukan adalah “mengapa?” dan “siapa yang menciptakan hukum-hukum ini?”. Jawaban pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi teka-teki bagi siapa saja yang menganut dogma materialis secara buta.

Di sini, di amana para kaum materialis mencapai jalan buntu,gambarannya sangat jelas bagi orang-orang yang melihat kejadian di alam semesta dengan pikiran dan kesadarannya. Keseimbangan tanpa cacat di alam semesta yang tidak bias dijelaskan sebagai suatu kebetulan, telah diwujudkan menurut perencanaan dan kehendak yang maha agung yaitu Allah swt, seperti yang dinyatakan dalam ayat, “Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Surat an-Nisa:86), dan Dia menciptakan segala sesuatu menurut perhitungan, aturan dan keseimbangan yang sangat teliti. Semoga kita dijadikan Allah sebagai hambanya yang senantiasa berpikir dan mensyukuri atas segala macam nikmatnya,amiiin.dikutip dari : http://pesantren.uii.ac.id

You Might Also Like

0 comments:

Please fiil your comments here with polite words